#Hematografi , Seni Memilih Alat-Alat fotografi secara Hemat, Tepat & Cermat


ilustration #hematografi

Lagi asyik-asyiknya ngopi di kamar kosan, liat acara komedi lalu tiba-tiba saya terkaget dengan salah satu iklan di TV. Yah, iklan dari salah satu vendor kamera terkemuka, Canon. Dalam iklan berdurasi tak kurang satu menit tersebut ditampilkan seorang fotografer dengan kamera full framenya (kalau gak salah sih EOS 1Dx) plus lensa telefoto putih khas Canon-nya. Ada yang gak sreg di hati saya soal tagline iklan tersebut di bagian akhir. Ini bukan karena saya pengguna Nikon loh yah, tapi tagline tersebut dirasa tidak cocok dengan filosofi fotografi(heeeeh anak budaya, ngomongnya gak jauh dari filsafat). Tag line itu mengatakan “Lensa adalah kekuatan dari kamera SLR…!”, sambil menampilkan jajaran lensa Canon seri L. Yah memang sih gak ada yang salah, namanya juga teknik marketing perusahaan supaya produknya terus dibeli. Toh namanya juga fotografi, sebuah hobi yang buat banyak orang menjadi kecanduan & sudah merupakan rahasia umum juga kalau hobi ini nguras kantong (banget).

1. Belilah sesuai kebutuhan kita

Fotografi merupakan hobi yang memiliki alat-alat yang banyak sekali. Kita harus tahu alat-alat apa saja yang kita paling “butuhkan” bukan alat-alat fotografi yang hanya ingin sekedar kita “inginkan”. Terlebih jika cuma karena alasan gengsi. Huh! Buang itu jauh-jauh. Misalkan kita sudah memiliki lensa dengan focal lenth 18-105mm yang sebenarnya sudah lebih cukup untuk kegiatan dokumentasi sehari-hari. Namun kita malah “menginginkan” lensa telefoto laras panjang dengan cakupan 80-400mm kendati kita tidak hobi fotografi olahraga atau satwa liar dan lebih menekankan fotografi hanya untuk dokumentasi event sehari-hari. Akhirnya lensa laras panjang yang sudah terlanjur kita beli jarang dipakai dan hanya menjadi pemanis laci dirumah Anda. Terbuang sia-sia bukan ? Hehehe

2. Pilihlah alat-alat fotografi berfitur ganda

Ini merupakan pengalaman teman saya sendiri. Dia memiliki DSLR dengan lensa kit 18-55mm & tele 70-300mm untuk event-event yang ia dokumentasikan. Namun karena dalam pemotretan sebuah event harus memiliki mobilitas yang tinggi pastinya lantas dia menjual 2 lensa yang ia miliki. Bukan tanpa tujuan karena gak mungkin dia motret tanpa lensa (hehehe, iya garing tau kok). Tapi setelah ia itu teman saya membeli lensa sapu jagat 18-300mm. Alasannya simpel, supaya gak ribet gonta-ganti lensa katanya. Tak hanya itu hasil penjualan 2 lensa miliknya tadi masih menyisakan uang lebih yang bahkan ia sendiri bisa belikan sebuah tripod, batery grip & ransel fotografi. Sangat cerdik? Yah!

3. Kenali fiturnya

c1_img_01.jpg (585×269)
source : imaging.nikon.com

 Sudah saya bahas diatas tadi, kalau fotografi memiliki banyak peralatan. Bukan hanya sesuai kebutuhan, tapi kita harus juga mengetahui fitur apa saja yang kita butuhkan atau tidak kita butuhkan. Karena kita tahu sendiri dalam fotografi berlaku prinsip beda fitur beda harga. Saya ambil contoh misalnya ada seorang fotografer yang lebih dominan bekerja di sebuah studio membeli lensa potrait dengan fitur VR atau IS misalnya. Hal itu saya rasa percuma karena kita tahu di studio foto kita pasti lebih sering menggunakan bantuan tripod. Akhirnya ? Fitur anti guncang yang terdaat pada lensa yang sudah dibeli pun dirasa percuma, terlebih lensa berfitur VR, IS, OS, VC dan sebagainya pasti lebih mahal dari yang tanpa menggunakan fitur tersebut.

4. Gear bekas ? Loh! Kenapa tidak?

Gear baru yang terlihat di iklan memang selalu menarik kita… Tapi kalau kita bisa memiliki gear yang sama walaupun dengan status “tangan kedua” kenapa tidak ? Toh harga lebih murah fitur sama, asal kita tahu kondisi gear tersebut baik atau tidak, layak dibeli atau tidak. Pilihlah gear bekas dengan kondisi yang baik. Lecet sedikit gak masalah, toh gak ngaruh ke hasil kan ? Jangan terpincut dengan gear bekas yang harganya lebih murah. Teliti sebelum membeli. Ingat ada harga ada kualitas! Perhatikan juga kelengkapan & garansi (syukur-syukur kalau masih ada). Oh yah saya menganjurkan teman-teman membeli gear bekas yang frequensi of use masih kita bisa gunakan lama. Kamera, tripod, filter misalnya. Kalau kamera DSLR bekas sudah pasti ada SC-nya bukan. Untuk itu sampai saat ini saya belum pernah membeli DSLR bekas. Kalau lensa bekas sudah 3x😀 hehehe Eittttsss tapi jangan kira DSLR bekas itu gak saya rekomendasikan yah. Pesan saya lagi-lagi, teliti sebelum membeli! (FPI ehhh typo! FYI : Nantikan postingan saya di blog tommyVotograh ini dengan judul Cermat-Tepat memilih gear bekas)

5. Mahal tidak salah asalkan worth it

Sekali lagi kita buka rahasia dalam fotografi, beda harga, beda kualitas. Misalkan teman-teman memiliki 2 pilihan untuk membeli tripod. Tripod A dibanderol dengan harga US$150 dengan bahan xxxxxx atau Tripod B hanya dengan US$70 namun berbahan dasar xxxxxx dan keduanya memiliki daya tampung 4Kg. Selisih harga yang jauh berbeda bukan? Jika teman-teman akan sangat sering menggunakan tripod, pilihlah yang sedikit mahal namun sudah jelas tahan banting. Buat apa jauh lebih murah namun akan sering masuk bengkel nantinya…?

6. Kalau bisa pinjam kenapa harus beli ?

Nah ini merupakan pengalaman saya pribadi lagi & alasan saya pindah agama dari Canon ke Nikon. Awal memiliki kamera DSLR di tahun 2010an saya masih menggunakan Canon 1100d dan pindah ke Nikon d5000 sebulan setelahnya. Alasannya ? Simple! Waktu itu saya hanya bisa menggunakan Canon 1100dengan lensa kitnya, sedangkan jika saya migrasi ke Nikon banyak teman-teman saya yang memiliki cadangan berbagai jenis lensa untuk saya pinjam dan pelajari. Hehehehe

7. Kalau tidak bisa pinjam kenapa tidak sewa saja…?

Kalau tidak bisa pinjam ? Yah sewa saja. Sekarang sudah banyak kok jasa penyewaan lensa online mulai dari lensa dengan harga murah sampai puluhan juta. Oh yah, meminjam lensa lewat jasa penyimpanan lensa juga sangat saya anjurkan jika teman-teman ingin membeli mencoba suatu jenis lensa yang ingin teman-teman beli nantinya. Kita jadi bisa membandingkan & mencoba lensa yang akan kita beli secara langsung sebelum kita membelinya. Namun perlu diingat kalau lensa yang kita gunakan adalah lensa pinjaman (dari teman ataupun jasa rental) maka sepatutnya kita lebih dewasa dan bertanggung jawab dalam menggunakan lensa-lensa tersebut.

Sekian postingan kali ini dari saya. Oh yah jangan lupa tunggu postingan jilid 2 dari #hematografi ini! Ini baru 7/15 nya loh😀

Mas ijin copas!

Copas yah gan!

Copas yah gan buat tugas kuliah!

 Saya gak larang kok🙂 DemiAllah saya senang ilmu yang saya bagikan bisa bermanfaat & itu malah menjadi semangat saya untuk posting di blog ini kedepannya. Alhamdulillah blog ini sudah bertahan kurang-lebih 3 tahun. Tapi kalau mau menggunakan artikel yang saya posting di blog ini apa harus FULL COPY CUT….? Yah saya tau meskipun nama saya & blog saya tercantum di blog atau tugas kuliah teman-teman. Tapi haruskah seperti itu ? Harus kah rasa kreatifitas bangsa ini mengalami jalan buntu hanya sekedar untuk tombol ctrl+c, ctrl+x & ctrl+v. Percayalah teman-teman, walau postingan ini disalin SELURUHNYA dengan ijin atau nama blog saya, saya tetap merasa miris karen hasil usaha saya sebegitu mudah terpindahkan, saya miris dengan kebiasaan buruk dari hal-hal “sepele” yang sudah dianggap biasa oleh bangsa ini. STOP FULL COPY CUT!🙂

11 thoughts on “#Hematografi , Seni Memilih Alat-Alat fotografi secara Hemat, Tepat & Cermat

  1. Ulasan yang menarik mas. Jadi fikir-fikir lagi mau beli lensa baru setelah baca artikel ini. Keep posting😀

      • Saya tertarik dengan pilihan nomor 7 mas. Menurut mas dimana tempat sewa lensa dengan pilihan yang banyak & cara meminjam yang mudah. Oh yah soal sapujagat, manakah yang lebih baik antara merk Tamron & Sigma mengingat keduaya bukan merk kamera saya (saya menggunakan Canon 550d)

      • Banyak sekali mas, untuk yang internasional sudah ada BorrowLenses.com. Kalau di Indonesia misalnya sewalensa.com namun tiap penyedia jasa pasti punya peraturan sendiri-sendiri🙂

        Kalau boleh tau type lensa yang mana diantara kedua lensa itu. Diantara Tamron dan Sigma saya lebih suka Tamron karena build qualitynya lebih bagus **CMIIW🙂

  2. Yang no.2 itu memang cukup ya? setau saya lensa 18-300mm itu harganya sekitar 10 juta loh hehe.. Alternatifnya beli kamera DSLR kedua, satu buat wide, satu tele. Enaknya kalau ada masalah dengan kamera dslr yang satu, yang satunya lagi bisa jadi cadangan.

  3. Ping balik: Jenis-Jenis Lensa pada Kamera DSLR | Tommy Votograph

  4. Ping balik: Perbedaan Lensa Zoom dengan Lensa Fix (Prime) | Tommy Votograph

  5. Gan, minta saran, saya dari dulu pengen banget nih punya SLR buat nyalurin hobi saya sama fotografer tapi bagusnya kamera apa yang berkualitas tapi terjangkau (gadgetnya) nih .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s