Suatu Ketika di Kolong Stasiun ini, Catatan Pinggir Penghujung Tahun


suatu ketika di kolong stasiun UI

Siang ini kulit yang semula kering, kini berceceran keringat. Matahari serasa baru diisi ulang! Tidak panas, namun tidak sangat tidak panas. Bingung? Kesimpulannya aku merasa gak nyaman sama cuaca siang ini. Beban kamera yang tergantung di leher berikut teman-teman pendukungnya dibelakang pundak, belum lagi salah kostum. Di kondisi sepanas ini kok malah menggunakan kemeja hitam. Yah kemeja hitam! Beginilah nasib anak kos-kosan yang biasa langganan jasa binatu kiloan.

Baru 9 mobil dengan berbagai peserta yang unjuk gigi di depan stasiun ini. Aku sampai mengernyitkan dahi saat melihat semangat mereka di mobil-mobil losbak itu. Semangat sekali mereka mengikuti iring-iringan di festival seni tahuna paling prestisius ini. Teriak, joget-joget bahkan beberapa yang ku lihat membaca puisi dalam penampilannya.

Masih ada 6 mobil lagi. Peduli setan! Dahaga ini perlu dibuang, aku hampir pingsan menahan lelah & kehausan. Setelah pedagang kaki lima di stasiun ini digusur disini-dinormalisasi istilah primitifnya-, sangat sulit menemukan pedagang. Jangankan pedagang koran pinggir jalan, tukang gorengan pun sangat jarang di sepanjang jalur ini. Imbasnya aku harus mencari pedagang air terdekat disebrang stasiun. Memang gak jauh, tapi cukup memakan waktu. Bagaimana dengan peserta yang masih menampilkan performanya di depan stasiun? Tapi lebih “bagaimana” lagi kalau aku sampai pingsan di depan penonton & para peserta yang semangatnya belum sedikit pun padam itu. Tentu malu.

Singkat cerita kerongkongan yang semula paceklik kini perlahan terasa dingin berkat tegukan air mineral ini. Keringat makin bercucuran sejadi-jadinya. Dengan wajah penuh iba Ibu penjual minuman sampai bengong-bengong sendiri melihat aku menengguk dagangannya dalam tempo sesingkat-singkatnya.

Waktunya aku kembali bekerja mengabadikan momen. Karena selain waktu, momen juga satu elemen kehidupan yang tidak bisa dijamah uang. Tapi tunggu dulu! Aku beruntung! Aku mendapati seorang lelaki paruh baya dengan rekannya sedang kerokan dikolong stasiun ini. Segera bergegas kembali ke tugas awal ku. Dari sini aku belajar, bahwa momen memang sesuatu yang tidak bisa dijamah uang. Dapet terjadi kapan saja, dimana saja, oleh siapa saja & jangan lupa genggam selalu kamera kita! hehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s